Iklan
Iklan

Jawaban:

PROSIDING PRASASTI

OPEN JOURNAL SYSTEMS

NOTIFICATIONS

View

Subscribe

LANGUAGE

Select Language

English

JOURNAL CONTENT

Search

Search Scope

All

Browse

By Issue

By Author

By Title

Other Journals

Categories

FONT SIZE

INFORMATION

For Readers

For Authors

For Librarians

USER

Username

Password

Remember me

HOME ABOUT LOGIN REGISTER CATEGORIES SEARCH CURRENT ARCHIVES ANNOUNCEMENTS STATISTICS

Home > 2014 > Suwanto

SASMITA TEMBANG MACAPAT (SUATU KAJIAN PRAGMATIK)

Yohanes Suwanto, Endang Tri Winarni

Abstract

Makalah ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang berjudul: Sasmita Tembang Macapat (Suatu Kajian Pragmatik). Masalah penelitian ini adalah (1) bagaimanakah bentuk sasmita tembang macapat (STM) dalam bahasa Jawa? (2) apakah fungsi STM bahasa Jawa? dan (3) apakah maksud STM bahasa Jawa? Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan bentuk STM dalam bahasa Jawa, baik yang berbentuk kata, frase, dan sinonim, (2) mendeskripsikan fungsi STM bahasa Jawa, baik yang berfungsi sebagai pengasah pikiran, dan (3) mendeskripsikan maksud STM bahasa Jawa, baik yang ditunjukkan oleh ko-teks (tuturan) maupun konteks (hal-hal di luar teks).

Penelitian ini mengambil lokasi di Kota Surakarta. Penyediaan data penelitian ini dengan menggunakan teknik pustaka. Analisis data ini menyangkut analisis penentuan bentuk sasmita tembang, fungsi sasmita tembang, dan maksud sasmita tembang. Penentuan bentuk STM ini dengan metode deskriptif. Teknik dasarnya dengan teknik pilah, yaitu semua bentuk STM yang diperoleh dari pustaka dipilahkan, dan teknik lanjutannya dengan teknik catat. Penentuan fungsi ini dilakukan dengan deskriptif fungsional. Penentuan maksud ini dengan menggunakan analisis pragmatik. Teknik dasarnya adalah dengan teknik pilah yaitu dengan cara memilah maksud (jawaban) sasmita tembang berdasarkan ko-teks (berdasarkan tuturan semata) dan maksud (jawaban) sasmita tembang berdarkan konteks (hal-hal yang ada di luar teks).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan: (1) bentuk STM bahasa Jawa terdiri atas berbentuk suku kata (misalnya: -kur- untuk tembang Pangkur, kata dudukwuluhe untuk tembang Megatruh, frase megat nyawa untuk tembang Megatruh, klausa lir mas timbul ing warih untuk tembang Maskumambang, dan brangtaa untuk tembang Asmaradana); (2) fungsi STM bahasa Jawa adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca atau penikmat tembang untuk mengetahui jenis tembang yang dibaca (awal pada ’bait’ atau pupuh ’kesatuan pada’); memberikan informasi jenis tembang pada pupuh berikutnya; estetis pada tembang macapat dengan ditunjukkan oleh adanya diksi, misalnya: brangtaa untuk menyebut tembang Asmaradana; dan (3) secara pragmatis STM bahasa Jawa dapat diketahui maksudnya bahwa sasmita tembang berdasarkan ko-teks (berdasarkan tuturan semata) dan maksud (jawaban) sasmita tembang berdarkan konteks (hal-hal yang ada di luar teks).

Penjelasan:

hahahaha sorry klo slh..

Iklan
Iklan

Pertanyaan baru di B. Daerah

19. Gatekna pratelan ing ngisor iki! (1) Guru lagu (2) Wirama (3) Pupuh (4) Solah bawa 20. Saben tembang macapat duweni titikan dhewe-dhewe. Dene ing … dhuwur kang klebu titikan tembang macapat yaiku nomer .... a. (1) lan (2) b. (1) lan (4) 22. c. (2) lan (3) d. (1) lan (3) 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i klebu guru lagu lan guru wilangan tembang. a. Mijil b. Sinom c. d. Kinanthi Maskumambang 21. Perangan kang ora ana ing sajroning panulise wara-wara, yaiku a. titi mangsa b. **** C. surasa basa peprenahan d. purwaka basa Gatekna pratelan ing ngisor iki! (1) Ndudut ati (2) Cekak lan cetha​
tolong ya urgent mau di kumpulkan hari ini ​
Galur kuda Hade budi
bantu jawab ya kak besok di kumpulkan plsss​
bantu jawab plsss besok di kumpulkan​
Maka Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, Hang Lekiu pun diajarnyalah oleh Aria Putra, bagai-bagai ilmu isyarat hulubalang dan firasat dan … ilmu penjurit, tetapi lebih juga Hang Tuah diajarnya barang ilmu dan isyarat. Setelah sudah, maka Aria Putra pun berpesan pada Hang Tuah, "Hai cucuku, jika engkau pergi ke Majapahit_kelak, jangan tidak engkau berguru pada Saudaraku bernama Sang Persata Nala itu, terlalu banyak tahunya daripada aku. Ia menjadi ajar-ajar, tiada ia merasai dunia. Bermulà aku pun belajar padanya sedikit banyak." Maka sembah Hang. Tuah, “Baiklah, tuanku, sebab tuanku hambamu junjung, karena hambamu lima bersaudara ini sudahlah menjadi hamba di bawah kadam tuanku." Maka Hang Tuah pun duduklah berhambakan dirinya kelima bersahabat di bukit itu pada Ara Putra itu. Ubah kedalam bahasa indonesia!
1. kumaha rarasaan hidep sanggeus maca sisindiran di luhur? Naha pikasediheun atawa pikaseurieun? Naon alesanana?2. Naha dina sisindiran di luhur aya … nu matak pikaseurieun? Naon alesanana?3. Mana wae sisindiran di luhur nu eusina piwuruk? Kumaha piwurukna?4. Mana wae sisindiran anu eusina nuduhkeun piwuruk jeung silih asih?5. Pek terangkeun lebah mana bedana rararkitan jeung paparikan?​​
Carikan crita rakyat pake bahasa Sunda​
Carikan crita rakyat pake bahasa Sunda​
Tulisna pepindhan kang trep kanggo perangan ing ngisor iki! a.dalane b.Kesite c. Luruhe.​